Minggu, 28 Desember 2014

Ketika Cinta Rosul Sebatas Ceremoni



Tidak diragukan lagi betapa bahagianya umat islam ketika menjelang hari-hari besar islam, seperti perayaan hari kelahiran Nabi yang dikenal dengan mauludan, berbagai acara untuk dapat merayakannya. Dari daerah peloksok sampai kota, lembaga pendidikan atau pun pemerintahan. Masyarakat desa seakan tidak ketinggalan untuk “riungan”, arak-arakan perahu, siraman rohani, dan berbagai even yang kesemuanya berlebel “Maulid”. Maraknya kegiatan ini mengakibatkan membanjirnya undangan yang sampai pada para ulama, da’I, dan penceramah  untuk menyampaikan dakwah dan membagi ilmunya.  Dunia  pendidikan seakan tak mau ketinggalan, para guru dan siswa beramai-ramai mengadakan lomba-lomba seperti pidato, shalawat, dll.  Bahkan sampai ke media televisi seperti konser akbar para musisi yang melantunkan lagu-lagu islami dan bershalawat.  

Namun seiring dengan perkembangan Zaman, arus Globalisasi dan modernisasi membuat kita lebih mengejar harta benda, kekuasaan dan aksesoris dunia dan   lupa dengan esensi ajaran dan sunah Nabi. Nama-nama Muhammad hanyalah sebatas nama  tanpa adanya akhlak dan sifat yang mengikuti jejak sang Rasul, Para ibu-ibu pengajian terkadang masih sering berkerumun untuk menggunjing dan mencari gosip terhangat dalam wilayahnya maupun dari kalangan selebriti. Remaja yang terjerumus dalam lembah kehancuran. Seperti mengonsumsi narkoba, aborsi, seks bebas, dan munculnya fakta tawuran antar pelajar diberbagai daerah. Mencuatnya kasus-kasus korupsi dari tingkat yang paling bawah sampai tingkat pusat, hukum yang dapat dibeli oleh orang yang berkuasa dan berpunya.

Keindahan dunia membuat orang yang imannya lemah tergila-gila dengan kemegahan, bahkan sangat mencintai dunia melebihi cintanya terhadap Allah SWT  sebagai sang Khalik. Padahal  dengan sekejap saja semua kemegahan dunia itu dapat diambil lagi oleh Allah, karena itu semua hanya titipan semata yang akan diminta pertanggungjawabannya. Sebagai pemeluk islam dan ummat Nabi Muhammad saw menjadi kewajiban kita mencontoh  sang teladan (Nabi Muhammad) dan membaca Al-Qur’an serta menjadikannnya sebagai pedoman. Karena di dalam Al-Qur’an sudah dijelaskan kejadian yang sudah atau belum terjadi dan bukti-bukti yang nyata.

Bahkan sudah banyak orang yang mengaku sebagai nabi setelah nabi Muhammad SAW, dan celakanya banyak pula orang yang mempercayainya, Perbuatan dosa yang tidak terasa menjadi sebuah kebiasaan, seperti meninggalkan solat karena kesibukan, laki-laki yang menjadi perempuan dan sebaliknya, Aurat perempuan dan laki-laki yang dapat terlihat di mana dan kapan saja tanpa ada rasa malu, mencari kekayaan dan jabatan  dengan jalan yang tidak halal.

Fakta-fakta di atas sangatlah ironis untuk sebuah Negara yang mayoritas beragama islam. Pertentangan yang terjadi antara sifat umat islam dan ajaran yang diakui sebagai agamanya terjadi karena semua yang dijalani hanyalah sebatas rutinitas dan kuantitas yang dikemas dalam tampilan keagamaan dan seolah-olan mencintai  rasul, tetapi substansi ajarannya belum  tertanam dalam hati mereka. Kebanyakan orang hanya memikirkan dirinya, rasa malu terhadap ejekan tetangga, dan popularitas. Hal itu semua akan terjadi ketika agama islam hanya sebatas data di KTP dan pengakuan sebagai umat nabi Muhammad hanya di mulut belaka tanpa  didasari cinta yang sesungguhnya terhadap rasul.

Teknologi dan semua kemajuan zaman hanyalah sebuah alat yang seharusnya bisa meningkatkan kualitas keimanan seseorang. Dengan kualitas iman yang baik itu diharapkan dapat menjadi filter terhadap budaya-budaya yang masuk dalam kehidupan kita.

Kepada Allah lah kita menyerahkan semuanya, dan kembali menuju jalan yang diridhoi-Nya dengan cinta kita yang tulus kepada Allah SWT dan tak lupa kepada junjungan kita, suri tauladan hingga akhir zaman yakni nabi Muhammad SAW.

Penulis. Uswatun Hasanah (alumni Anak Juara RZ Cilegon)


0 komentar