Minggu, 28 Desember 2014

Khodijah Hobinya Belajar

Khodijah
Khodijah. Gadis yang masih duduk di bangku tsanawiyah ini termasuk siswa yang pandai di sekolahnya. Begitulah menurut pengakuan nasiroh, guru yang mengajarnya. khodijah aktif bertanya jika ada yang tidak di mengerti dan menjawab jika di tanya. Ia selalu serius setiap materi pelajaran tengah di terangkan oleh setiap gurunya. Ia tidak segan - segan mengadukan pada gurunya jika ada teman yang membuatnya terganggu.
Prestasi akademiknya bagus. Peringkat satu selalu di sandangnya. Tentu saja itu tidak lepas dari kegigihannya dalam belajar. Selain aktif di kelasnya, diluar kelas pun Khodijah tetap dalam eksistensinya meskipun hanya dalam ekskul paskibra. Kondisi rumahnya yang jauh dari sekolah membuatnya perlu membatasi aktifitasnya dalam kegiatan di luar kelas. Setiap hari ia jalan kaki dari rumahnya di kampung kelelet sampai ke sekolahnya di daerah delingseng.
Nuraini, sedikit bercerita mengenai teman dekatnya ini. khodijah suka sekali membantunya jika ia masih kurang mengerti dalam materi pelajaran. Gadis kelahiran 7 maret itu tidak pelit berbagi ilmu dan sabar menerangkannya sampai ia mengerti. Walau terkadang menyebalkan menurut Nur,  Khodijah merupakan teman baiknya.
Sosok Khodijah pun di kenal ramah oleh para tetangganya. Selain ramah, sifat sopan dan mandiri melekat pada Khodijah. Ia tidak pernah neko - neko diusianya yang masih belia ini. ia dapat menerima kekurangan kondisi ekonomi keluarganya. Khodijah memang gadis yang sederhana.
Pekerjaan ayahnya hanya buruh dan ibunya hanya seorang ibu rumah tangga. Khodiah akui bahwa keadaan ekonomi keluarganya itu mempengaruhi prestasi dirinya  terang saja, setiap hari ia jalan kaki pulang-pergi ke sekolah yang letaknya lumayan jauh. Ia juga tidak bisa seperti teman-temannya yang lain yang bisa belajar tenang karena kebutuhannya selalu terpenuhi. Namun ia dapat mengesampingkan dan membuang jauh-jauh rasa kecewanya. Ia percaya, semua itu adalah ujian bagi dirinya dan juga keluarganya untuk mencapai keberhasilan. Maka dari itu, cita-citanya adalah membahagiakan orang tua. Putus asa tidak membawa hasil apa-apa. Yang ada ia akan semakin terpuruk dengan kekurangan itu.
Saat di tanya apa hobinya, khodijah menjawab bahwa hobinya adalah belajar. Seolah ia tidak mau melewatkan sekecil hal apapun untuk ia ambil sebagai pelajaran. Ada beberapa poin penting yang membuatnya berhasil dalam belajar meskipun ia masih duduk di bangku tsanawiyah.
Yang pertama adalah niat. Harus ada niat dari hati. Karena bagaimanapun niat adalah modal utamanya. Akan jadi berantakan jika tidak ada niat. Yang kedua, bekerja keras, tidak mudah menyerah. Kesungguhan (niat) tanpa adanya usaha tentu menjadi hal yang mustahil untuk menuju keberhasilan. Dan yang terkhir, berdoa dan bersyukur pada Allah swt. Tidak akan lengkap atau sempurna keberhasilan yang di capai seseorang jika tidak di sertai dengan rasa terima kasih pada Sang Pemberi Rizki. Yang ada keberhasilan itu tidak menjadi berkah dan mudah lenyap dari genggaman.
Ketiga poin penting itu ia dapatkan dari orang tuanya. Orang tuanyalah yang selama ini mendukungnya. Bukan orang lain. keduanya selalu berpesan padanya untuk bersungguh-sungguh dalam belajar supaya tidak menyesal di kemudian hari. Berkat orang tuanya juga lah Khodijah pernah mengikuti lomba Qori. Awalnya ia tidak mau karena tidak begitu percaya diri. Tapi akhirnya mau juga setelah dibujuk dengan memberi semangat.
Jika ada waktu kapanpun, Khodijah selalu memanfaatkannya untuk belajar. Ia tidak mau menunggu waktu malam saja karena di khawatirkan mati listrik yang nantinya malah menyulitkannya belajar.
“Seringnya setelah pulang sekolah, saya sholat dulu. Setelah solat, saya melihat lagi pelajaran yang sudah di ajarkan di sekolah hari itu..”
“Kerjaan saya di rumah ngabantuin bapak, ngejagain adik dan belajar. Itu saja, sih..”
Inilah sekilas dari sosok gadis belia pemilik nama mulia  Khodijah.
 “Semangat untuk hidup!”. Itulah mottonya.

                                         -OoO-



0 komentar