Minggu, 28 Desember 2014

Mahjunah Ingin Menjadi Donatur


Mahjunah bersama keluarga

Lahir di Cilegon, 05 April 1996. Bertempat tinggal di jalan Sambiranggon Jerang Barat kelurahan Karang Asem kecamatan Cibeber. Mahjunah anak ke dua dari empat bersaudara. Ayahnya, Ridwan seorang penarik becak dan ibunya, Aisyah hanya seorang ibu rumah tangga. Penghasilan yang di dapat tidak menentu. Mahjunah tahu betul kondisi ini. Orang tuanya kurang memadai untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga di tambah kebutuhan biaya pendidikan anak-anaknya. Inilah yang menjadi motivasi terbesar Mahjunah untuk terus berprestasi. Setidaknya, walaupun dirinya belum mampu ikut bekerja mencari uang , ia bisa sedikit membanggakan orang tuanya dengan tidak menyia-nyiakan sekolahnya yang dibiayai dengan susah payah ayahnya.

Alumnus Madrasah Tsanawiyah Al Jauharotunnaqiyah Jerang Barat ini pandai sekali berpidato. Beberapa kali ia memenangkan lomba pidato tingkat lokal yang di selenggarakan di berbagai event. Ia juga pernah mengikuti seleksi lomba pidato yang di selenggarakan oleh Kementrian Agama RI hingga tingkat kota.
Mahjunah saat mengikuti rihlah edukasi di Cikole
Di sekolah, Mahjunah seringkali meraih peringkat satu. ia juga aktif mengikuti ekstrakulikuler seperti Pramuka dan PMR. Mahjunah suka sekali yang namanya berdiskusi. Maka ia pun sering berkumpul dengan teman-temannya untuk saling bertukar pikiran. Ketika dirinya termasuk ke dalam anak juara Rumah Zakat, hobinya itu tersalurkan dengan adanya klub mentoring yang diadakan disetiap wilayah pembinaan. Dengan mengikuti mentoring yang sedikitnya terlaksana sebulan dua kali, Mahjunah jadi semakin semangat mencari ilmu. Terutama ilmu agama. Mahjunah tertarik untuk mendalami kitab kuning.

Sebagai anak perempuan satu-satunya, Mahjunah tentu ingin sekali di banggakan oleh Orang tuanya. Ia bersyukur orang tuanya selalu mendoakannya dan mendukung disetiap kegiatan positif yang ia lakukan. Terutama ayahnya.

Mahjunah paham, bahwasanya berusaha saja tidak cukup. Maka ia meminta doa pada orang tuanya. Tidak lengah juga dirinya berdoa untuk dirinya sendiri. Kebiasaannya, disepertiga malam, disaat orang-orang banyak yang lelap dalam mimpinya, ia bangun, melakukan qiyamulail kemudian dilanjut dengan belajar.

Kelak, Mahjunah ingin menjadi seorang guru. Ia yakin, bila ada kemauan pasti ada jalan. namun dalam mengejar cita-citanya itu, tidak berarti Mahjunah terus saja berkutat dengan sekolahnya atau pun kegiatan di luar rumah lainnya. Di rumah, gadis yang suka membaca ini pun suka membantu pekerjaan rumah ibunya. Menyetrika adalah pekerjaan wajibnya.

Mahjunah memiliki cita-cita lain. beberapa tahun belakangan ia bergabung dengan Rumah Zakat, menerima beasiswa setiap bulannya. Ia berharap, semoga suatu saat nanti, ialah yang menjadi donaturnya. Bukan penerima beasiswa lagi. Bukankah bila ada kemauan pasti ada jalan?

-OoO-

0 komentar