Minggu, 28 Desember 2014

Perjalanan Meniti Asa seorang Septi #1

Septi (berkerudung putih) saat pelatihan wartawan cilik di Rumah Dunia tahun 2010

# CHAPTER 1 #
“Bacain, sih...”. pintaku pada Atul, tetehku yang usianya hanya terpaut setahun di atasku. Aku menyodorkannya sebuah majalah Bobo. Majalah Bobo adalah majalah favoritku yang sering abah sisakan dari menjual korannya. Lalu dengan senang hati Atul membacakannya untukku.
“Pada suatu hari di kerajaan peri hutan, terjadi kejadian yang sangat aneh...”aku mendengarkannya dengan saksama. Namun tiba-tiba nada suara Atul tidak seperti layaknya membacakan cerita. Ia membacakanku cerita sambil bernyanyi. Tentu saja membuatku mengerutkan kening dan kemudian memintanya untuk serius. Atul menyeringai. Ia pun melanjutkan bacaan ceritanya. Tapi tak lama kemudian ia melakukan hal yang sama, membacakan  cerita dengan dilagukan. Terus hingga berulang-ulang sampai aku kesal dan akhirnya memukulnya, lalu pergi sambil membawa majalah Boboku.

Itulah yang terjadi saat aku masih berusia kira-kira empat-lima tahun. Aku belum bisa membaca. Tapi aku selalu ingin tahu apa isi tulisan yang ada di majalah, koran atau buku apapun. Satu-satunya orang yang aku harapkan adalah Atul. Ia sudah masuk TK dan sudah bisa membaca pula. Sialnya, Atul sering menggodaku. Barulah, ketika aku telah masuk TK, aku sudah jarang minta di bacakan cerita lagi oleh Atul. Bukan karena aku sudah bisa membaca, tapi karena duniaku beralih dari membaca ke mewarnai, merangkai benda, juga bernyanyi. Aku suka mewarnai di sekolah. aku juga suka menyambung titik-titik menjadi garis yang nantinya akan membentuk sebuah benda, angka, atau huruf. Setiap pulang sekolah, aku langsung menaruh tasku dan mengeluarkan bukuku. Aku akan melanjutkan pekerjaan sekolah, atau sekadar menggambar sambil bernyanyi. Menyanyikan lagu-lagu yang di ajarkan ibu guru. Hal itu kulakukan sampai sore. Malamnya aku pun terlelap karena kelelahan. Aku begitu asik dengan dunia baruku itu. Sampai-sampai, aku menderita sakit typus dan harus di larikan ke rumah sakit. Aku sering lupa makan bila sudah asik dengan aktifitasku.

Aku tak tahu, apa yang selanjutnya terjadi. Suatu ketika, malam hari di rumah sakit, aku yang sedang tertidur, mendengar ibuku menangis. Aku pun terbangun. Ibuku langsung memelukku dan mengajakku pulang. Aku sangat bingung karena itu begitu tiba-tiba. Bahkan aku tahu, bahwa saat itu ibuku pun sedang di rawat di rumah sakit yang sama karena penyakit livernya yang kambuh. Mungkin karena terlalu lelah merawatku.
Beberapa hari setelah kepulanganku dari rumah sakit, Atul pun menceritakan padaku apa yang sudah terjadi pada malam itu, di mana aku langsung di bawa pulang dengan tiba-tiba.
“Kata dokter, kamu udah mau mati. Ga bisa di tolongin lagi. Makanya umi yang di kasih  tau sama abah, umi langsung nyabut jarum inpus di tangannya terus lari ke kamar kamu sambil nangis...”
Alloh...ternyata saat itu aku tengah mengalami koma hampir seharian dan dokter  memprediksikan bahwa usiaku tidak panjang. Namun, dokter salah. Alloh masih memberiku kesempatan untuk melanjutkan hidupku. Tepat saat umi datang, aku sadar dari koma. Dan bahkan aku masih bernapas sampai saat ini. Tidak kurang satu apapun.

                                                                                      -oOo-

Saat TK, aku memang masih belum bisa membaca. Hingga aku masuk ke kelas satu di sebuah sekolah dasar negeri di kota cilegon. Sewaktu pergantian cawu satu ke cawu dua, kami di tanya oleh guru wali kelas satu-persatu, apa sudah bisa baca? Aku mengangguk. Aku bilang, Ya. Aku bisa. Walau pada kenyataannya aku hanya bisa mengeja. Tapi aku terlalu malu untuk mengatakan kalau aku baru bisa mengeja. Sementara teman-temanku sudah pada bisa membaca. Namun, ternyata keyakinanku itu ada hasilnya. Akhirnya aku bisa membaca dengan lancar ketika menginjak cawu dua. Bahkan saat pembagian rapot di akhir cawu, aku berhasil menembus peringkat tujuh. Dan itu bertahan di cawu tiga, kenaikan kelas.
Kenaikan kelas bersamaan dengan pindah rumahnya kami dari seneja timur ke sebuah lingkungan temu putih yang tepatnya di rokal. Kami menempati sebuah bedeng bernomor 04 yang ada di Rt 04 Rw 04. Lagi, aku tidak tahu kenapa, saat itu abah berhenti bekerja dari menjual koran. Abah menganggur. Umi harus kelimpungan mencari hutang sana-sini demi mengisi perut dan membiayai sekolah ke lima anaknya.

Aku jadi suka merasa minder di sekolah karena aku tidak punya buku paket. Aku harus meminjam atau ikut numpang melihat ke teman sebangku. Aku sering kepikiran, bagaimana jika ada pe er ? jika ada pe er, aku harus pinjam dan mengerjakannya saat itu juga. Atau jika tidak sempat, besok pagi-pagi aku akan mengerjakannya di sekolah.
Sejak kecil, aku tidak suka di beri uang jajan. Kalau aku sudah benar-benar kepingin, baru aku akan minta. Itu pun dengan berusaha merayu umi agar mau memberi uang. Hal itu juga berlaku dengan kakak-kakaku. Sewaktu abah masih bekerja, saat sekolah masing-masing dari kami di beri uang seribu. Lima ratus untuk sangu, dan lima ratusnya lagi untuk ongkos pulang naik ojek. berangkat sekolahnya, kami jalan kaki pagi-pagi dengan jarak sekitar lima kilometer dari rumah. Tapi setelah abah menganggur, tak ada lagi jatah sangu ke sekolah. beruntung rumah kami pindah dekat sekolah, jadi aku dan ke dua tetehku tak perlu berjalan jauh apalagi mengongkos. Tapi tidak bagi dua orang kakakku yang lain. Saat itu keduanya baru masuk SMP. Dan sekolah mereka lumayan jauh.

Saat aku naikan kelas tiga, adikku lahir. Ia lahir di hari kamis malam jumat tanggal 04 juli 2002. Menurutku, adikku yang di beri nama NUR AIDA HIDAYATI atau yang berarti Cahaya Keberuntungan Petunjuk Allah itu memiliki wajah yang cantik walaupun dengan sedikit tidak sempurna. Ida lahir dengan bibir bagian atasnya sedikit membelah. Kata ibu guruku, anak yang lahir seperti itu lantaran kekurangan gizi saat di kandungan.
Hufft...walau begitu, ida tumbuh begitu cepat dan ia anak yang cerdas. Sejak bayi, ia tidak akan mau menyusu jika umi tidak membacakan basmallah untuknya terlebih dahulu. ia juga hafal surat alfatihah dan doa iftitah saat usianya belum genap tiga tahun. Sesuai namanya, ida memang keberuntungan bagi keluarga kami. Kami, adalah saksi dari terkabulnya doa-doa yang sering ia panjatkan dengan sangat polosnya.
Aku merasa, walaupun hidupku di tengah kekurangan, aku masih bersyukur karena merasa bahagia dengan keluarga.

                                                                                     -oOo-

Aku sedih, takut dan bingung. Aku tak punya buku untuk di pakai di sekolah karena umi belum punya uang juga untuk membelikan buku. Aku sudah punya hutang di sekolah karena sppku menunggak entah berapa bulan. Aku belajar seadanya. Aku kurang begitu mengerti dengan pelajaran matematika. Aku sering mendapat nilai buruk. Banyangkan! Di rapot semester satu kelas tiga, aku mendapat angka merah untuk pelajaran berhitung itu. Aku begitu ngeri melihatnya. Tak mau kubuka-buka lagi.

Hari pertama masuk semester dua di kelas tiga, aku terlambat, sehingga membuatku tak kebagian tempat duduk. Aku pun harus duduk dengan seseorang teman laki-laki yang nakal. Ferlian namanya. Aku takut padanya. Ferlian suka marah-marah jika ada yang mengusiknya. Makanya, aku selalu tetap berada di tempatku sampai ia pergi dari tempat duduknya. Aku terlalu takut untuk permisi padanya mau lewat. Sampai-sampai, saking ingin keluar dari tempat dudukku, aku harus lewat kolong meja untuk keluar karena ferlian tidak juga pergi dari tempat duduknya yang ada di pinggir. Tiga hari saja, aku sudah merasa tersiksa duduk dengannya.

Beruntung, di hari ke empat, kelasku kedatangan anak baru. Namanya Anna. Anna adalah gadis berkerudung yang pindah sekolah, karena rumahnya juga pindah. Saat itu, pagi-pagi, Anna sudah duduk manis di bangkuku dan Ferlian. Aku sedikit terkejut. tapi aku masa bodoh, toh yang diambil kursinya ferlian, bukan kursiku. Aku duduk di sebelahnya. Ferlian sering datang agak siangan, di saat bel masuk hampir berbunyi. Ia terkejut karena kursinya di pakai oleh orang asing. Karena segan, ia tidak marah pada Anna, tapi ia hanya mengomel bersama teman-temannya. Akhirnya, Ferlian mengambil kursi baru dan ikut duduk bersama temannya, tidak lagi bersamaku. Aku duduk sebangku dengan Anna.

Hmm..ternyata Anna anak seorang guru, dan ia lumayan pintar. Aku suka bertanya hal-hal yang tak kumengerti pada Anna dan dengan senang hati Anna akan menjawabnya atau mengajariku. Selain pintar, Anna juga sangat baik. Saat pembagian rapot kenaikan kelas, aku berhasil mendapat peringkat ke sepuluh. Anna pun menghadiahiku satu pak buku tulis. Ia bilang, ia tidak tega melihat temannya memakai buku bekas untuk sekolah. aku terharu mendengarnya. Ternyata selama ini ia memperhatikanku. Anna tidak hanya pintar dan baik, ia orang yang pengertian. Ia bukan orang yang pelit. Ia selalu mengajakku menemaninya jajan. Karena aku tidak punya uang saku, aku pun hanya menemaninya. Tapi Anna dengan royalnya berbagi denganku. Selalu seperti itu setiap hari.

Melihat Anna yang berkerudung ke sekolah, membuatku iri. Sejak kecil, aku suka sekali melihat perempuan berkerudung. Apa lagi ibuku juga berkerudung. Dengan berkerudung, mereka terlihat anggun, nyaman, dewasa...pokoknya enak di pandang. Dan aku selalu bercita-cita seperti mereka. Tapi, berhubung umi lagi-lagi tak punya cukup uang untuk sekadar membelikan seragam panjang dan kerudung untukku. Tapi keinginanku untuk ikut berkerudung tak bisa kutahan lagi. Aku pun nekat memakai kerudung instan putih satu-satunya milik Itoh, tetehku ke sekolah. Aku pakai kerudung dengan seragam yang masih pendek. Sungguh malu memakainya di sekolah. teman-temanku mulai mengejekku. Katanya aku sok alim, pakai kerudung tapi seragamnya pendek, ikut-ikutan Anna dsb, dll, dst, dkk...
Hanya seminggu aku bertahan.
Aku tak kuat di ejek. Dan aku pun sempat rebutan kerudungnya dengan tetehku untuk di pakai ke sekolah. dan aku pun kembali ke semula. Menanggalkan kerudungku dengan terpaksa.

                                                                                -oOo-

Persahabatanku dengan Anna berlanjut di kelas empat. Kami sekelas lagi. Anna masih sama seperti waktu itu. Ia dengan sabarnya mengajariku matematika. Ia juga masih suka mengajakku jajan dan berbagi denganku.
Tapi..tahukah?persahabatan kami merenggang ketika kami naik kelas lima. Kami pisah kelas. Anna di kelas 5A dan aku di kelas 5B. kami jarang bersama lagi. Anna pun sudah punya teman baru yang dekat dengannya. Aku hanya bisa tersenyum kecut setiap berkesempatan bertemu dengannya. Hubungan kami semakin merenggang karena di kelas selanjutnya kami masih tak bersama. Bertegur sapa pun sudah jarang di lakukan. Lebih memilih pura-pura tidak melihat. Jujur, menyadari itu aku sangat sedih. Bagaimanapun, Anna adalah sahabat pertamaku. Teman yang mengerti aku. Aku sering bertanya-tanya, apakah aku tidak pantas berteman lagi dengannya atau apa, entahlah. Yang pasti, saat aku kelas enam, aku masih merasa sangat bahagia. Aku dapat seragam panjang bekas Atul, tetehku yang sudah lulus SD dan melanjutkan ke sebuah pesantren di daerah serang. Saat itulah, aku mengazzamkan diriku, bahwa aku tidak akan lagi menanggalkan kerudungku. Dan aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk menutup auratku dengan benar.
                                                                            -oOo-

0 komentar