Minggu, 28 Desember 2014

Perjalanan Meniti Asa seorang Septi #4

Septi saat diwawancara oleh wartawan Harian Baraya  Post

# CHAPTER 4 #
“ Kamu, siapa namanya?!” bentak seorang panitia MaBiS padaku. Aku kena hukuman karena tak membawa karet gelang warna hijau dan merah.
“Saya Septi, teh...”
“Keluarin bajunya!ini bukan di SMA, tapi Madrasah!”
Aku menurut. Kukeluarkan kemejaku yang ku masukkan ke rok biruku.
“kamu dari pesantren? Pesantren mana?”tanya salah seorang teman MaBiS padaku.
“oh, nggak, saya dari SMP...”
Ia hanya memandangku sedikit aneh. Heran kali. Aku pakai seragam SMP tapi kerudungku ngejombrang. Yah..aku satu-satunya siswa baru yang mengenakan kerudung lebar kayak karung(?). tapi aku pede aja.
Yah, aku kini sekolah di sebuah Madrasah Aliyah Negeri. Aku tak mampu memenuhi tantangan pak Dedi. Nampaknya aku telah mengecewakannya. Aku merasa kesulitan. Aku  tak berhasil masuk Smansa. Aku bahkan tak mencapai angka 30 untuk nemku. Nemku begitu kecil. Lagi-lagi aku harus bingung mencari sekolah yang menerima siswa dengan nem yang pas-pasan.
Aku berkeliling dengan abah, mencari sekolahan. Hingga abah ingat sebuah Madrasah Aliyah. Aku mengerutkan kening. Madrasah?? Aku tak pernah membayangkan itu. Terpikir pun tidak. Tapi ternyata, disanalah jodohku. Aku melanjutkan ke Madrasah Aliyah negeri. Sekolah itu lumayan jauh dari rumahku. Aku harus naik motor selama lima belas menit. Beruntung, sekolah itu masih di lewati transportasi umum.
Sama seperti di SMP, Aku memutuskan untuk ikut dalam pemilihan  pengurus osis dan mpk. Aku memang berniat untuk melanjutkan keeksisanku di organisasi itu. Karena, aku sudah merasakan manfaatnya. Aku bisa lebih mengasah kepercaya dirianku, banyak teman, dan pengalaman. Aku juga mendapat ilmu tentang hubungan relasi dan keorganisasian yang tidak ditemukan materinya di kegiatan belajar mengajar. Selain itu, aku berpikir bahwa osis dan mpk adalah ladang dakwah yang bagus. Aku pun di terima menjadi pengurus mpk komisi b yang mengurusi tentang program kerja osis, baik jangka panjang maupun jangka pendek setelah menjalani masa pdks (pelatihan dasar kepemimpina siswa).

                                                                                -oOo-

Padahal ini sekolah berbasis islam, tapi para siswanya seperti tak peduli dengan label itu. Buktinya, merka tidak begitu tertarik dengan kegiatan2 islaminya. Seperti RohIs. Sewaktu SMP, rohis adalah suatu hal yang sangat membuatku sedih. RohIs di sekolahku itu mati suri sejak kepindahan sang pembina yang selalu berjuang dalam mengaktifkan RohIs, yakni pak Halawi, seorang guru sejarah favoritku. Aku sering berpikir dengan cara apa aku kembali menghidupi RohIs, sedangkan aku tidak memiliki teman yang mau ikut peduli. Aku sering menyesali diriku yang tidak berhasil dalam berdakwah, setidaknya mengajak teman-teman mau mengaji. Walau ada sedikit rasa bangga dalam hati karena aku masih istiqomah di tengah pergaulan bebas teman-teman yang terbawa arus modernisasi. Entahlah... kupikir, mungkin Allah belum memberi izin padaku untuk mengubah keadaan itu lewat tanganku, karena aku sendiri, masih lemah iman.

Hal itu ternyata tak jauh berbeda ketika aku bersekolah di Madrasah Aliyah. Tadinya kupikir RohIs di sana hidup seperti RohIs di SMAN 1 Cilegon, tempat Atul bersekolah. Namun melihat kenyataannya, sungguh miris. Terlebih karena Rohis di sini tidak memiliki pembina. Masih di bawah asuhan OSIS. Meskipun katanya para pengurus OSIS wajib menghadiri kajian setiap hari jumat minimal dua minggu sekali, tapi tetap saja RohIs sepi. Terlebih ketika guru yang sering mengisi acara rohis vakum karena sedang melanjutkan kuliah. RohIs pun sekarat. Baru saat aku naik kelas sebelas, kepala sekolah memutuskan untuk memisahkan rohis dari OSIS dengan memiliki pembina sendiri, yakni yang menjadi pembina adalah pak Judiasa. Aku pun memanfaatkan kesempatan itu untuk mengadakan open house sekaligus dalam rangka menjaring peminat dari para siswa kelas sepuluh yang baru beberapa minggu bersekolah di MAN. Untuk melancarkan niatku, aku mengutarakannya pada pak Yudi yang menyambut baik dan menggandeng beberapa alumni yang dulunya juga pernah berjuang di jalan ini.

“kepada seluruh pengurus osis dan mpk di harapkan berkumpul di lapangan saat istirahat. Wajib.”terdengar  pengumuman dari speaker yang di pasang di setiap kelas. Aku pun memenuhinya, karena aku memang termasuk dalam kepengurusan mpk. Tanpa disangka, ke hadiranku disana ternyata untuk menghakimi beberapa pengurus yang kemarinnya tidak hadir dalam rapat persiapan acara PDKS (Pelatihan Dasar Kepemimpinan Siswa). Aku yang waktu itu tak hadir karena ikut rapat rohis, disuruh untuk membuat lingkaran dengaan sekitar lima orang lainnya.celadisuruh berteriak mengucapkan kalau kami malu menjadi pengurus OSIS dan MPK. Aku merasa terzhalimi karena aku diperlakukan seperti itu di hadapan hampir semua penghuni sekolah. Di marahi, di ejek dan di permalukan hanya karena aku tidak hadir dalam rapat kemarin dan tidak izin.

Aku ingat, bertepatan dengan rapat itu, aku pun tengah melakukan rapat bersama ketua rohis, kak Husein dan pak Yudi untuk membicarakan acara open house kami. Aku berpikir, tak apa aku tidak hadir, toh aku lebih di butuhkan di RohIs. Di OSIS dan MPK sudah banyak orang yang mengurusi.
Aku merasa terzhalimi karena walau bagaimanapun, kesalahanku hanya di kehadiran yang itu pun baru kali itu aku lakukan. Sedangkan pengurus yang lain yang aku yakin kesalahannya lebih banyak dan parah dariku tidak dihakimi apa-apa. Hanya karena mereka dekat dengan orang yang berkepentingan di situ dan kebetulan hadir sewaktu rapat kemarin. Entah sepenting apa rapat kemarin itu sehingga yang tidak hadir di hakimi dengan tidak adil dan parahnya hal itu dilakukan tanpa sepengetahuan ketua OSIS sendiri yang memang saat itu tidak ada karena ada urusan.

Aku takut, dengan kejadian itu jadi membuat para siswa baru tidak berminat masuk di RohIs karena ada aku yang sempat kena image buruk itu. Tapi alhamdulillah, dengan perjuangan sang ketua juga sang pembina, RohIs berjalan dengan lancar tak pernah absen dalam seminggu. Bahkan rohis mempelopori dengan diadakannya menabung untuk hari raya qurban.

                                                                                   -oOo-

“Septi, mau ikutan nggak?” tanya Mia, teman sekelasku di sela-sela waktu istirahat sekolah.
“Ikutan apa, Mi?”
“Lomba puisi. Tepatnya lomba cipta puisi Al quran...”
“Gimana maksudnya? Maaf, aku nggak ngerti..”
“Ikut aja dulu, ya? Penjelasannya nanti kalo udah daftar.”
Aku mengerutkan kening, berpikir sejenak. Akhirnya aku mengangguk. Di coba dulu, tak apa kan?
Haha, jujur deh...sebenarnya aku kurang begitu mahir membuat puisi. Aku juga tidak begitu suka. Kegemaran menulisku di dasari oleh prosa, bukan puisi. Tapi kalau ada kesempatan, kenapa tidak?
Ternyata, lomba puisi yang di adakan oleh Kementrian agama nasional itu lumayan rumit. Untuk membuat puisinya, harus di ambil dari kandungan ayat al quran. Sedangkan, al quran itu juga bahasanya seperti puisi. Jadi, membuat puisi dari puisi. Kita harus tahu dulu apa maksud dari ayat itu, kemudian itulah yang di jadikan tema dalam puisi yang nanti akan di buat. Untuk pemula sepertiku, itu benar-benar rumit. Apalagi ayatnya di tentukan oleh panitia.
Walau awalnya aku coba-coba, ternyata membuahkan hasil. Aku berhasil lolos seleksi lomba dari MA se-kota cilegon yang nantinya akan di kirim untuk ikut seleksi lagi ke provinsi.
Aku shock sekaligus senang. Di provinsi aku kembali terpilih untuk ikut seleksi ke nasional. Ini adalah pengalaman pertamaku. Sungguh membanggakan walaupun pada akhirnya aku tak menjadi juara nasional. Tapi setidaknya, dengan ini kemampuanku semakin terasah dan semakin meyakinkanku untuk menjadi seorang penulis.
Aku ingin menjadi penulis. Selain aku mencintai buku, aku juga ingat kutipan dari imam al ghazali. Beliau mengatakan, jika kalian tidak menjadi apa-apa, jadilah penulis. Karena itu dapat melembutkan hati.

                                                                                    -oOo-

Setiap hari sabtu, semua siswa diwajibkan ikut Pramuka atau PMR. Aku memilih untuk ikut Pramuka. Kupikir, di Pramuka pasti kegiatannya asik dan menyenangkan. Namun ternyata pandanganku salah. Pramuka terlalu berlebihan dalam segala hal. Dan satu yang paling tidak kusukai dari pramuka adalah kegiatan upacara malam hari yang ada ‘ritual’ mengelilingi api dengan mengucapkan dasadarma juga trisatya. Tidakkah menurutku itu suatu hal musyrik? Layaknya seperti para penganut majusi, para penyembah api. Apa tiak ada hal lain yang dilakukan?
Selain kegiatannya yang membuat keningku berkerut, aku pun tidak suka dengan para kakak-kakaknya berperilaku tidak baik. Karena tidak tahan, aku pun perlahan-lahan keluar dari sana tak peduli mendapat poin pelanggaran dari BP karena pramuka adalah kegiatan wajib.

Keluar dari pramuka, aku beralih pada Teater. Klub yang termasuk kedalam komunitas seni MANcil ‘Banyu Biru’ ini resmi menjadi sebuah ekskul ketika aku dan sekitar 15 orang temanku ikut audisi teater untuk lomba dan berhasil menjadi juara 1 se-provinsi dalam ajang festival teater yang diadakan di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Selama dua tahun aku aktif di klub itu, sudah tiga kali aku ikut lomba, dengan sekali menjadi aktris dan dua kali hanya menjadi kru.

Kurasa, berkecimpungnya aku di dunia teater semakin mendekatkanku pada cita-citaku sebagai penulis. Karena di teater ini kami diajari cara membuat cerita yang menarik, dan berimajinasi tinggi.  Setiap ada tugas drama, baik itu di mata pelajaran bahasa atau seni, aku selalu diminta untuk membuat naskah dramanya. Sewaktu ujian praktek seni semester ganjil kelas dua belas ipa dua beberapa waktu lalu, aku berhasil menjadikan naskahku yang terbaik. bagitu pula dengan pementasannya, teater garapanku menjadi yang terbaik di kelas. Kini, aku kembali dipilih sebagai penulis naskah sekaligus aktris dan sutradara di kelasku untuk pagelaran pementasan teater dalam rangka ujian praktek untuk kelulusan. Sebagai sutradara, Tanggung jawabku begitu besar karena nilai teman-teman sekelasku tergantung padaku. Aku harus mempersiapkan segalanya jauh jauh hari. Mengatur teman-teman, latihan setiap ada waktu luang, dan menyiapkan mental teman-teman.

“Temen-temen! Selesai KBM ga boleh pulang! Kita latihan teater!” teriakku ketika jam KBM hampir berakhir. Kudengar sebagian besar dari mereka mengeluh.
“aktornya aja yaa...crew mah pulang...yaa??”
“enak aja! Ga fear dong!”
“dari pada kita ga ngapa-ngapain? Cuma nonton aja..”
“Bu Sut, istirahat dululah sampe jam tiga...laper nih...”
“Ya. Pokoknya aku kasih waktu sampe jam tiga harus udah pada kumpul!” kataku.
“Bu Sut! Kata produser, mana laporan latihannyaa plus absen?? Ditunggu ampe besok!”
“Laporan itu bukan aku yang ngurusin, minta ke astrada aja!”
“Septii...aku izin yaa..mau ada keperluan. Boleh yaa??”
“Septi, properti untuk setting panggungnya masih bingung..-_-“
“Septi, dianya ga mau pake kostum ini!”
“Uuh.. bu Sut, masih banyak yang belum bayar iurannya! Kitanya bingung mau beli keperluan panggungnyaa..”
Aku tersenyum kecut. Pusing.
Di setiap akan latihan, mereka paling susah untuk memulai. Aku harus menggiring-giring untuk masuk ke dalam ruangan, menyuruh untuk segera memainkan setiap peran masing-masing.
“Romi, ekspresi apa itu? Kamu lagi marah lho sama Agus, bukan lagi bercanda..” tegurku pada Romi, sang pemeran utama.
“Uuh...gimana, sih?!”
Dalam satu kali latihan, per adegan bisa diulang hingga sedikitnya tiga kali. Selalu saja ada kesalahan. Entah salah bicara, lupa adegan, masih canggung, bercanda terus sampai ada yang ngambek juga.
“Aguuss....kamu kan belum di pukul, kenapa udah jatuh duluaann?!?”
“Asep, kamu kurang panik. Ga ada feel-nya!”
“Backsoundnyaa...backsoundnyaa..bukan yang itu! Itu backsound untuk adegan berapa?!”
“Hei! Serius doong!!”
“hayo..hayo.. bu Sut-nya sewot.. awas ngamuk!”
“Josephine? Yang jadi Josephinenya manaa??”
“pulang”
“Apa?!”
Aku hanya bisa mengurut dada menyikapi semuanya. Setiap tiga hari dalam seminggu, selepas KBM, selama hampir 3 bulan, kami selalu latihan demi menyukseskan pagelaran yang mengambil nilai ujian praktek itu. Walaupun lelah, kami merasa senang. Selain bisa berkumpul bersama teman-teman, teater merupakan hiburan yang mujarab sehabis bimbel yang memeras otak.
“Septi, ada kabar buruk!” lapor salah seorang teman sekelasku yang tergabung dalam tim produksi. “Besok kita tetap belajar full. Sabtunya juga sama. Kita nggak diberi kesempatan untuk gladi. Satu-satunya kesempatan kita hanya hari jumat..”
“lho? Kok gitu, sih? Masak nggak ada gladi? Trus pasang panggungnya gimana?”
“nggak tahu. Kata kepsek bolehnya pasang panggung setelah kbm di hari sabtu..”
“setelah kbm? Hari sabtu? Yang benar aja! Emang masangnya nggak lama apa? Trus, kita latihan untuk lightingnya gimana?? Sedangkan yang megang lighting nggak pernah nyoba..minggunya kan kita udah tampil!”
“kalo kata guru matematika, sih katanya, milih teater atau ujian nasional??”
“ya ampun. Nggak pengertian banget, sih? Katanya nggak boleh nyepelein ujian praktek. Kenapa jadi begini?!”
“iya. Kalo pagelaran teater asal jadi mah, nggak serulah...”
Kejadian ini sempat membuat ketegangan di antara siswa, guru dan kepsek. Para siswa meminta untuk di beri kesempatan leluasa mempersiapkan teater sebaik-baiknya yang di dukung oleh guru seni. Tapi tidak di beri keleluasaan oleh guru matematika yang menjadi panitia UN dan kepsek. Di tambah tidak ada dukungan dari guru-guru lainnya yang masa bodoh. Di minta untuk berpartisipasi dalam membeli tiket pertunjukan, bisa di hitung jari guru yang mau membantu.
Terpaksa, kami mengikuti apa yang telah di tetapkan. Hari sabtu, selepas kbm jam 3, kami mempersiapkan segalanya untuk hari minggu. Masang panggung, mendekor, menyiapkan segala properti, memantapkan latihan, dengan mencocokkan musik, set, kostum dan memastikan lighting. Sebagai sutradara, aku tidak mau penampilan para aktorku tidak memuaskan di panggung nanti. Itu akan menyia-nyiakan pengorbanan teman-temanku, mulai dari waktu, tenaga, pikiran, hingga dana. Kurelakan pulang ke rumah jam sepuluh malam untuk memastikan panggungnya. Karena kami memang tidak ada gambaran sama sekali dengan panggungnya, berhubung tidak ada gladi.

Esoknya, pertunjukan teater dalam rangka ujian praktek siswa kelas dua belas pun di gelar. Kelasku, giliran tampil ke tiga, satu jam sebelum waktu duhur. Ada kesalahan dalam beberapa adegan, terutama sewaktu adegan siluet. Lightingnya nggak karuan.
Akhirnya, pertunjukan berakhir dengan banyak komentar. Beruntung, dari audience, sedikit yang berkomentar buruk.
Saat evaluasi, seluruh siswa kelas dua belas di kumpulkan. Evaluasi ini di adakan untuk mengevaluasi hasil pertunjukan kami, sekaligus mengumumkan beberapa kategori penilaian. Alhamdulillah, kelasku tak banyak yang perlu di evaluasi. Hanya fokus pada masalah lighting dan beberapa maslah kecil.
Ada beberapa kategori penilaian. Dari juara umum, aktor dan aktris terbaik, dan sutradara terbaik.
“ juara tiga, dari kelas....dua belas agamaa!!”
“horee...selamat..selamat..!”
“Juara duaa dari....” pa wawan, juri teater yang mengumumkan hasilnya, melirik ke arah kami, dua belas ipa dua.
“kelas dua belas...ipa...dua...dikurangi satu!!”
Huufftt...what the hell?? Kami nggak jadi yang kedua? Lalu?
“dan juara umumnya adalah....dua belas, ipa....DUA!!”
“Yeee!!!” kami, anak kelas dua belas ipa dua bersorak gembira.
“untuk kategori aktor terbaik, di raih oleh Hafidz, dari kelas dua belas ipa dua!”
“Selamat, Hafidz!!” kami kembali bersorak dan memberi selamat pada Hafidz.
“dan kategori aktris terbaiknya, di raih oleh Septi!”
“hah?”
“ Yee...selamat Septi!!”
“sedangkan untuk kategori sutradara terbaik, di sandang oleh... Septi lagi!!”
Aku bengong. Apa? Aku meraih dua kategori sekaligus??
Terus terang saja aku tak menyangka. Kerja kerasku, ternyata membuahkan hasil...

                                                                                        -oOo-

Jujur saja, aktifitasku selama SMA lebih banyak dihabiskan di sekolah dari pada di luar sekolah. KBM yang sampai menjelang sore, keaktifanku di OSIS dan MPK, Rohis, Teater dan menumpuknya tugas tugas sekolah. hampir setiap hari aku pulang lebih dari jam 5 sore. Bahkan, hampir setiap hari minggu pun waktunya dihabiskan di sekolah. Sampai orang tuaku mengeluhkanku yang hampir setiap hari sekolah tanpa henti. Tapi alhamdulillah selama hampir tiga tahun ini orangtuaku tidak pernah melarangku dan memintaku untuk berhenti dari aktifitasku di sekolah.

Aku melakukan ini semua bukan hanya sebagai pengisi waktu, tapi ingin mendapatkan pengalaman sebagai usaha pencarian jati diri dan ingin menempa diriku agar menjadi orang yang kuat, bijaksana dan tegar. Selain itu, ketidakberhasilanku di akademik bisa kubayar tuntas. Aku ingin membahagiakan keduaorangtuaku dengan caraku sendiri. Semoga apa yang selama hampir 18 tahun usiaku lakukan ini meraih pahala dari Allah S.W.T. amiin...

Cilegon, 30 Maret 2012

Catatan admin: Septi adalah alumni Anak Juara RZ Cilegon. Sekarang Septi melanjutkan kuliah di salah satu Universitas di Bandung. Kita do'akan semoga semua yang dicita-citakannya tercapai dengan baik. Amiin


0 komentar