Senin, 26 Januari 2015

Sejarah Pengajian Jam 3 Dini Hari di Pesantren Bany Syafi’i

Anak Juara
Alfis, Anak Juara Korwil Cilegon
 Berawal dari sebuah kesalahan yang telah saya lakukan saat itu yaitu menjenguk teman yang sedang sakit tanpa minta izin kepada pengurus pondok. Ditambah para senior yang bermalas-malasan untuk mengikuti pengajian, sholat berjamaah dan tidak disiplin dll. Pagi itu hari Jum’at dalam kegiatan KIAS (Kajian Intelektual Antar Santri) Ustad Mundzir Nadzir SAg,M,Sy, pemimpin ponpes Bany Syafe’i dalam sebuah sambutannya sepertinya beliau marah besar atas ketidak patuhan para santrinya. “sudah lah dari pada kalian asal-asalan belajar di pesantren mendingan pulang saja,  ustadz tidak butuh orang yang tidak bersungguh-sungguh, percuma banyak santri kalau hanya laha leho dalam belajar, ustadz butuh santri yang semangat-semangat untuk mengikuti pengajian dan berjamah, bukan santri yang bermalas-malasan, ustad mau 10 orang atau berapa orang saja, tidak mesti banyak tapi dia semangat untuk ngaji dan berjamah. Katanya.

 Pada saat itu susana sangat tegang karna ustad sedang marah sampai saya ken semprot  karna ngantuk ketika mengikuti KIAS. Beliau berpesan kepada saya agar jangan mencontoh senior-senior yang malas. Diakhir sambutannya Ustad memberikan sebuah tantangan kepada semua santrinya katanya siapa yang berani ngaji malam sambil tahajjud jam 3 malam? Tantang ustadz. Bagi yang berani setelah KIAS ini langsung ngomong ke Ustadz, dan  ustad siap mengajar walupun hanya satu,dua orang santri yang mengaji yang bersedia. Waktu itu tidak ada seorang santri pun yang menyanggupi tantangan sang ustadz kami diam berbalut penyesalan, takut dan campur aduklah perasaan kami sat itu sampai kegiatan KIAS selesai tidak ada seorang santri pun yang menerima tantangan itu. 

Sebenarnya saya merasa tertantang akan tetapi belum ada keberanian untuk mengungkapkannya secara langsung dalam acara KIAS tersebut. Saya ingat akan tujuann saya ke pesantren adalah untuk belajar kenapa tidak untuk menyanggupi tantangan ustadz. Akhirnya saya mencoba mengajak seorang teman untuk bersama-sama ke rumah Ustadz untuk menyatakan bersedia mengikuti pengajian jam 3 malam. Alhamdulillah ternyata langkah kami diikuti oleh teman-teman yang lainya. Dimulailah pengajian perdana yang dilaksanakan pada minggu dini hari jam 3. 

Alhamdulillah sampai sekarang pengajian itu berjalan dengan lancar bahkan pengajian ini dijadikan pengajian pokok dari pada pengajian-pengajian bada shalat fardu yang lain, karna manfaat nya sangat besar sekali bagi orang yang bangun malam mungkin tidak perlu di jelaskan lagi faedah-faedah bangun malam, salah satunya usatad pernah membrikan  motivasi konon katanya orang yang sering sakit-sakitan itu adalah orang yang jarang bangun malam bahkan konon katanya ada sebuah penelitian di pondok pesantren, dari ribuan santri hanya ada beberapa santri saja yang jarang sakit-sakitan ternyata setelah di teliti ia sering bangun malam dari pada santri yang lainnya, jarang bangun malam itulah yang sering sakit-sakitan, ya artimya di pengajian malam ini bukan hanya sekedar ngaji saja tapi sambil sholat,tadarus dan istigosah lalu mulailah pengajian kitab kuning.  

Pengajian ini di lakukan rutin setiap dini hari kecuali jika ustad benar-benar kecapaian tapi itu jarang terjadi karna ustad pernah berazzam bahwa tidak akan meninggalkan pengajian ini artinya mau beristiqomah.
 
Demikian sebuah cerita keseharian saya di pesantren semoga menginspirasi.

0 komentar