Senin, 16 Februari 2015

Cerpen: Irsyad, si Monster Cumi-cumi Insap*

By: Bintunnajah Al-Muhaddis

“Kamu Irsyad kan”?
“Ya benar, Kamu Ica kan”?
“Ya saya Ica, kamu juga ngelanjutin sekolah di sini? Bukannya kamu di pesantren?”
“Ana Cuma empat tahun di pesantren, terus pindah ke SMA  ini.”
“Ana? Nama kamu Ana apa Irsyad sih???.”

0_0


Gyaaaaaa… kenapa aku bisa satu sekolah lagi sama monster cumi-cumi ituuu, isyhh… sebel sebel sebel…!!! aku teriak-teriak kayak orang kesurupan jin botol, mama Cuma melongo melihat  tingkah aneh anak perempuannya ini. masih terekam di ingatanku kejadian-kejadian masa lalu, kejadian-kejadian saat aku masih SD dulu, betapa si Monster Cumi-cumi alias Irsyad doyan banget bikin aku ngamuk-ngamuk dan nangis. Entah alasan apa yang membuat dia doyan banget bikin aku nangis, padahal aku tak pernah mengganggunya apalagi menyakitinya. Maka setelah aku lulus SD, aku berharap tak lagi satu sekolah dengannya, dan memang benar, Irsyad si Monster Cumi-cumi itu melanjutkan pendidikannnya di pesantren di Jawa. Aku merasa lega karena tak lagi melihat mukanya yang menyebalkan. Tapi sekarang…kenapa kita satu SMA..oh my God…! Akankan masa-masa kelam kembali berlanjut.


0_0


“Nama saya Irsyad Faqih Maulana, saya lulusan pesantren Darul kutub Magelang, terima kasih.”
Arrrrghh…ternyata kita sekelas, Ya Allah semoga hambamu ini bisa lebih kuat menghadapi si Monster Cumi-cumi yang kejam dan tak berprikemanusiaan itu, doaku dalam hati.
“Ca, itu yang kamu bilang manusia paling kejam dunia akhirat?, tapi kok kayaknya dia kalem gitu sih, gak ada muka-muka kriminalnya sama sekali, dia udah insap kali Ca”
“Heeeh kamu jangan tertipu sama penampilan luarnya Rin, dia kelihatannya doang kalem, tapi jahatnya naudzubillaah..yaaah semoga aja dia udah insap.” Ucapku menggebu-gebu.

Hari ini sekolah berjalan dengan normal, hal-hal yang aku takutkan ternyata memang tidak terjadi, mungkin benar kata Rini, si Monster cumi-cumi udah insap, secara dia jebolan pesantren, tapi aku harus tetap waspada, untungnya aku ikut kelas karate, jadi kalaupun monster cumi-cumi tiba-tiba nyerang  dari belakang aku bisa nangkis hyaaat ciyaaat bag bug bag bug ahahaha..aku ketawa-ketawa sendiri. Tiba-tiba…

Assalamualaikum Ica”
“wa.. wa’alaikumussalam Monster eh Irsyad,” aku langsung pasang kuda-kuda, khawatir si Monster tiba-tiba mukul.
“Anti ngapain sih hehe lucu banget.
“Apanya yang lucu? aku lagi pasang kuda-kuda nih, lagian nama saya Ica, Khoirunnisa bukan Anti, Anti nyamuk kaliii.” Ucapku jutek.
“Oohh Jadi anti masih trauma kejadian dulu itu?, ana minta maaf yah, Insya Allah sekarang ana udah enggak nakal lagi Ca, maafin ana ya Ca, eh ngomong-ngomong kerudung anti belum Syar’I tuh, masih nerawang, kelihatan rambutnya, anti ga mau kan masuk neraka gara-gara gak nutup aurot?”
“Ana, anti, Syar’I, aurot??? Hadeuuhh ngomong apa sih kamu ga ngerti ah..” aku langsung ngeloyor pergi.
0_0 

“Dear Diary..ada kabar bagus nih..kamu tau gak sih ternyata si Monster Cumi-cumi udah insap!!! Sesuatu banget khan???, tadinya aku takut banget kalau-kalau dia masih jahat kayak dulu, duuuh ga kebayang deh kayak apa jadinya, tapi aku udah punya ilmu karate ini, jadi ga terlalu takut banget siy. Eh tapi tapi ada yang berubah looh dari si monster, dia kelihatan diem dan kalem banget, terus ngomongnya itu loh ke-arab-araban gitu, kesurupan onta kali dia ya qiqiqi, trus sok nasehatin gitu looh Di, pake bawa-bawa neraka segala lagi..hiiyy serem kan Di?? Hmm jadi penasaran, keselek obat apa ya dia sampe berubah 180 derajat gitu Di, hihihi..”

“Concord merupakan pola persesuaian atau agreement antara noun dengan verb atau auxiliary dalam satu kalimat. Juga persesuaian antara satu kata dengan kata lainnya atau word agreement, contohnya He comes there bla..bla..bla..” jelas Monster cumi-cumi, satu lagi yang membuatku tercengang ternyata dia juga jago bahasa inggris. Hmm..syukurlah setidaknya kepintarannya bisa merubah image dia yang dulu; nakal, suka bikin onar  tapi otak pas-pasan.

“Assalamualaikum Ica, kok kerudungnya masih pake yang kayak gitu, kan sudah ana bilang gak syar’I.” Tiba-tiba saja  Irsyad sudah ada dihadapanku yang sedang makan cimol sama minum jasjus.
“Hadeeeeh urusan amat sih kamu, kerudung-kerudung saya!, yang beli saya! yang make saya! bukan emak kamu, kok kamu yang repot???” ucapku sebel, lagian ceramah gak liat sikon, orang lagi asik makan cimol malah di ceramahin.

“Kan wa ta aawanu alal birri wattaqwa Ca, saling menasehati dalam kebaikan dan ketaqwaan, sesama muslim harus saling menasehati dan mengingatkan dalam hal kebaikan kan?, ana Cuma mengingatkan anti kalau kerudung yang anti pake tidak syar’I karena nerawang.
“Ya udah harusnya emang kayak gimana? Aku masih nyolot.

“Yang gak nerawang, gak ketat alias longgar, dan menutupi dada, lebih jelasnya anti lihat aja di Qur’an surat Annur ayat 31, juga Al-Ahzab ayat 59, dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairoh Rasulullah  bersabda yang artinya : Ada dua golongan dari ahli neraka yang belum pernah saya lihat keduanya itu: Pertama, Kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi yang mereka pakai buat memukul orang (penguasa yang kejam); Dua, Perempuan-perempuan yang berpakaian tetapi telanjang, yang cenderung kepada perbuatan maksiat, rambutnya sebesar punuk unta. Mereka ini tidak akan bisa masuk surga, dan tidak akan mencium bau surga, padahal bau surga itu tercium sejauh perjalanan demikian dan demikian HR. Muslim Babul Libas.” Aku bengong, bener-bener kesurupan jin arab nih orang, kerjaannya ceramah mulu.

“Iya iya pak ustadz, nanti nanti saya ganti deh kerudungnya, itupun kalau inget ya”. Balasku asal.
“Inget azab Allah Ca, ingat balasan orang-orang yang tidak mengindahkan perintah-Nya, siksa neraka sangat pedih Ca.”
“Iyaaaa.. isyhh kenapa sih seneng banget bawa-bawa neraka kalau ngomong, heran deh!”. Si Monster cumi-cumi insap Cuma senyum-senyum gak jelas.

0_0
Seminggu sudah si Monster cumi-cumi gak masuk sekolah, denger-denger dia sakit, tapi entah sakit apa, padahal tadinya aku mau memperlihatkan kerudung baruku yang sudah syar’I,, panjang menutup dada dan gak nerawang, biar dia gak bawel lagi.

Dia juga harus tau, bagaimana perjuanganku mendapatkan kerudung baru, sampe-sampe mama sujud syukur, dikira anaknya yang rada-rada ini sudah mulai insap, gara-gara minta dibelikan kerudung yang tebal dan panjang. Tapi sampai sekarang pun dia tak menampakkan batang hidungnya.

“Ca Kenal Irsyad kan”?, tanya mamah tiba-tiba, saat kami sedang asik makan pisang goreng.
“Kenal mah, dia kan teman SD Ica dulu, yang nakal banget, tapi sekarang dia udah insap, sekarang dia sekelas lagi sama Ica, emang kenapa gitu mah?.

“Oooh jadi SMA nya bareng lagi sama kamu, iya Mamahnya Irsyad kan teman arisan Mama, kemarin beliau minta doain anaknya yang lagi di rawat di RS, katanya sih lumayan parah gitu sakitnya Ca. makanya dia dipindahin sekolahnya biar gampang mantaunya, dulunya dipesantren kan?” ooh jadi itu alasan Irsyad pindah sekolah, karena dia sakit-sakitan. Aku membatin.

“He’eh mah lulus SD dia langsung masuk pesantren, ngomomg-ngomong mamah tau gak dia sakit apa?
“Mmm..kanker apa gitu yaa mamah lupa.”
 Astaghfirullah si Monster punya penyakit kanker, Ya Allah semoga aku sempat meminta maaf atas sikap ku selama ini yang kurang baik padanya, ada perasaan aneh yang tiba-tiba menyelusup dalam dada.
Mading Sekolah
Pagi pagi sekali sekolah begitu ramai, aku melihat mading penuh sesak oleh puluhan siswa yang berkerumun.
“Ada  informasi apa sih Rin, rame banget?” tanya ku penasaran, saat melihat Rini keluar dari kerumunan.
“Irsyad Ca, Irsyad..dia.. dia meninggal”.
“Inna lillaahi wa inna ilaihi rooji’uun..” tubuhku tiba-tiba lemas, aku belum sempat meminta maaf padanya, pun untuk sekedar memperlihatkan kerudung baruku yang kini sudah Syar’I, aku tak sempat. Mataku memanas, kutahan sekuat tenaga agar air mata ini tidak keluar.

“Dia sakit leukemia Ca, kanker darah, kasihan ya, memang benar, orang baik cepat dipanggil ya Ca.”
Irsyad maafkan aku, mungkin karena aku belum bisa memaafkanmu, aku bersikap begitu kasar padamu. Aku janji akan menjadi perempuan yang baik, perempuan yang mampu menjaga harga dirinya, mampu menjaga kehormatannya dan menutup aurot dengan sebaik-baiknya. Maafkan aku yang dulu tak mengindahkan  nasehat-naehatmu, semoga engkau bahagia di sisi-Nya. air mataku tak lagi mampu ku bendung.


Penulis adalah Korwil Cibeber, Juara 3 Lomba menulis Cerpen Remaja Islami, Kategori  Mahasiswa/Umum. LDK Anniversary 16Th. LDK Ummul Fikroh IAIN “SMH” Banten.    

update: penulis sudah tidak jadi korwil lagi sejak awal tahun 2016

0 komentar